Jakarta, Beritageothermal.com – Pengembangan energi panas bumi atau geothermal kembali didorong menjadi salah satu prioritas dalam agenda ketahanan energi Indonesia. Anggota Komisi VI DPR RI Ida Nurlaela Wiradinata meminta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengambil peran lebih besar dengan mengoptimalkan kekuatan PLN dan Pertamina.
Dorongan tersebut muncul di tengah kebutuhan Indonesia untuk memperkuat sumber energi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Bagi Ida, panas bumi bukan sekadar proyek pembangkit listrik. Jika dikelola secara serius dan berkelanjutan, geothermal dapat menjadi bagian penting dari strategi Indonesia membangun sistem energi yang lebih mandiri dan ramah lingkungan.
“Memang pembangunan energi geothermal membutuhkan biaya yang besar. Tetapi kalau kita ingin mewujudkan energi hijau dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil, potensi panas bumi harus terus dikembangkan,” ujar Ida, Kamis (13/8/2026).
Cincin Api Jadi Modal Besar Indonesia
Ida menyebut posisi geografis Indonesia memberikan keuntungan tersendiri dalam pengembangan panas bumi. Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang dikenal memiliki aktivitas vulkanik tinggi.
Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki sumber panas bumi yang tersebar di berbagai wilayah. Potensi itu, menurut Ida, harus diubah menjadi sumber energi produktif, bukan sekadar kekayaan alam yang tersimpan di bawah permukaan tanah.
“Indonesia ini berada di Ring of Fire. Artinya, kita memiliki banyak sumber panas bumi. Ini potensi besar yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik nasional,” katanya.
Karena itu, Ida mendorong agar potensi geothermal mendapat strategi investasi yang lebih terarah. Danantara dinilai dapat memainkan peran penting dalam mendorong pembiayaan proyek-proyek energi strategis melalui perusahaan yang memiliki kapasitas besar seperti PLN dan Pertamina.
Jangan Terjebak Hitungan Modal Awal
Salah satu tantangan utama pengembangan geothermal adalah kebutuhan investasi yang tidak kecil. Namun, Ida mengingatkan agar besarnya modal awal tidak menjadi alasan untuk memperlambat pengembangan energi panas bumi.
Menurut dia, investasi energi harus dihitung dengan perspektif jangka panjang. Selain nilai ekonomi proyek, ada manfaat strategis berupa penguatan ketahanan energi, pengurangan penggunaan energi fosil, hingga dukungan terhadap agenda transisi energi.
“Jangan hanya melihat mahalnya investasi di awal. Kita juga harus melihat manfaat jangka panjangnya. Kalau targetnya adalah energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, maka investasi geothermal harus mulai diperkuat,” ujar Ida.
Ida juga menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang mendukung pengembangan geothermal. Efisiensi biaya, kepastian aturan, teknologi yang memadai, serta keterlibatan masyarakat sekitar menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan.
Bukan Sekadar Bangun Pembangkit
Menurut Ida, ukuran keberhasilan investasi geothermal tidak semestinya hanya dilihat dari berapa banyak pembangkit yang berhasil dibangun.
Lebih dari itu, proyek panas bumi diharapkan mampu menciptakan rantai ekonomi baru di daerah. Kehadiran proyek dapat membuka lapangan pekerjaan dan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah pengembangan.
Pemanfaatan sumber energi yang berasal dari dalam negeri juga dapat menjadi salah satu cara memperkuat kemandirian energi Indonesia.
Ida berharap Danantara bersama PLN dan Pertamina dapat melihat geothermal sebagai investasi strategis yang manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang.
“Yang kita bangun bukan hanya pembangkit listrik, tetapi ekosistem energi yang berkelanjutan. Potensi yang kita miliki harus dimanfaatkan untuk kepentingan energi nasional dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















