Jakarta, Beritageothermal.com – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mempercepat pengembangan aset panas bumi melalui kegiatan pengeboran di sejumlah wilayah operasional.
Sepanjang 2026, perusahaan telah melakukan pengeboran lima sumur yang mencakup eksplorasi dan sumur penopang produksi (make-up well).
Langkah tersebut dilakukan untuk membuka peluang penambahan kapasitas pembangkit sekaligus menjaga ketersediaan uap dan keandalan aset panas bumi yang telah beroperasi.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, pengembangan kapasitas baru harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan produksi dari aset yang sudah beroperasi.
“Untuk itu, kami terus menjaga keandalan aset panas bumi yang telah beroperasi melalui berbagai langkah, salah satunya pengeboran sumur penopang produksi (make-up well). Langkah ini merupakan bagian dari strategi kami untuk memastikan aset panas bumi dapat memberikan manfaat secara optimal dalam jangka panjang,” ujar Ahmad Yani dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia, dikutip Selasa (13/10/2026).
Salah satu kegiatan eksplorasi dilakukan melalui pengeboran sumur GTG-B.1 di proyek Gunung Tiga. Proses pengeboran sumur tersebut telah diselesaikan pada 9 Juni 2026.
Sementara itu, pengeboran sumur penopang produksi dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Lumut Balai, Ulubelu, dan Lahendong.
Di wilayah Lumut Balai, Sumatera Selatan, PGE telah menyelesaikan pengeboran sumur LMB 19-3 pada 3 September 2026.
Perusahaan kemudian memulai pengeboran sumur LMB-19.4 pada 17 September 2026 dengan target kedalaman 2.500 meter.
Pengeboran tersebut menjadi bagian dari pengembangan potensi Lumut Balai Unit 3 yang ditargetkan memiliki kapasitas 55 megawatt (MW).
Di wilayah Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung, pengeboran sumur penopang produksi dilakukan melalui sumur UBL-T.1 yang mulai dibor pada 17 September 2026.
Adapun di area Lahendong, Sulawesi Utara, PGE melakukan pengeboran sumur TPS-P1.2 di Tompaso. Pengeboran yang dimulai pada 22 September 2026 itu memiliki target kedalaman sekitar 2.300 meter dengan potensi kapasitas sekitar 8 MW.
Strategi Menjaga Produksi dan Mengembangkan Potensi Baru
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi menjelaskan, pengeboran merupakan bagian penting dari strategi pengelolaan portofolio panas bumi perusahaan.
Menurut dia, pengeboran eksplorasi membuka peluang untuk menemukan dan mengembangkan sumber daya panas bumi baru. Sementara itu, pengeboran make-up well diperlukan untuk menjaga pasokan uap agar pembangkit yang telah beroperasi dapat mempertahankan keandalannya.
“Melalui pengeboran eksplorasi dan make-up well, kami membuka peluang untuk menemukan dan mengembangkan potensi panas bumi baru,” kata Edwil.
Ia menambahkan, kedua pendekatan tersebut menjadi bagian dari penerapan Reservoir & Drilling Management untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya panas bumi secara berkelanjutan.
Upaya menjaga ketersediaan uap dinilai penting dalam mendukung kesinambungan operasi pembangkit panas bumi. Di sisi lain, eksplorasi dan pengembangan sumur baru menjadi langkah untuk mengidentifikasi potensi tambahan yang dapat dikembangkan menjadi kapasitas produksi.
PGE juga menilai dukungan masyarakat dan pemangku kepentingan di sekitar wilayah kerja sebagai salah satu faktor penting dalam kelancaran kegiatan operasional dan pengembangan panas bumi.
Melalui penguatan keandalan aset yang telah beroperasi dan pengembangan potensi baru, PGE berkomitmen memperkuat perannya sebagai produsen panas bumi kelas dunia (world leading geothermal producer) sekaligus pusat keunggulan panas bumi (geothermal centre of excellence).
Upaya tersebut diharapkan turut mendukung ketahanan energi nasional serta mempercepat transisi menuju pemanfaatan energi bersih di Indonesia.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini












